Perpustakaan VS Kebodohan

February 7, 2013 on 4:14 am | In Uncategorized | No Comments

Sejak Indonesia merdeka sampai sekarang ini, perkembangan perpustakaan berjalan lambat dan tidak seimbang. Terbukti dengan tidak meratanya perpustakaan modern yang biasanya hanya berada lingkungan kota saja. Sedangkan di daerah pelosok perpustakaan masih termasuk sederhana. Dilihat dari sisi pengunjung atau pemakai perpustakaan, perpustakaan di Indonesia masih tergolong sepi pengunjung. Hanya orang-orang tertentu yang datang ke perpustakaan yaitu orang yang berkeinginan untuk belajar dan membaca saja atau bisa dibilang hanya orang-orang yang pintar. Kenapa mereka tidak mau memanfaatkan perpustakaan sebagai tempat tongkrongan mereka dalam keseharian mereka?

Faktanya bahwa masyarakat umum masih menganggap perpustakaan hanyalah sebagai tempat kumpulan buku, sedangkan tugas pustakawan adalah menjaga dan menata buku saja. Dengan demikian perlu adanya perubahan persepsi masyarakat terhadap perpustakaan yang meski segera ditelaah lebih lanjut dan dicarikan solusinya. Agar seluruh lapisan masyarakat dapat belajar di perpustakaan dan memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang tersedia di perpustakaan supaya menjadi masyarakat yang pintar. Kondisi Indonesia saat ini bisa dibilang kalah dalam persaingan melawan arus globalisasi. Khususnya dalam masalah sumber daya manusia yang masih relatif rendah dibanding dengan sumber daya manusia dari luar negeri. Ini dikarenakakan masyarakat Indonesia masih tergolong malas. Eksistensi Indonesia sebagai sebuah negara serta prestasinya di kancah persaingan global, akan ditentukan oleh satu hal :  rakyatnya membaca atau tidak.

Membaca adalah dasar dari semua pengetahuan. Dengan membaca kita jadi tahu segala hal. Orang yang tidak mau membaca identik dengan kebodohan. Kebodohan melahirkan lingkaran setan yaitu keterbelakangan dan kemiskinan, yang akhirnya menjadi sumber bencana. Suatu kondisi yang seharusnya dicegah sejak awal Indonesia merdeka. Peran perpustakaan dalam menyediakan koleksi bahan pustaka sangatlah penting. Menimbang dari kondisi rakyat saat ini, perpustakaan diharapkan aktif menangani keterbelakangan. Sedangkan kondisi yang terjadi saat ini masih banyak perpustakaan yang belum maju. Artinya perpustakaan belum mampu memanfaatkan perannya yang membantu negara dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Perumusan Masalah

  1. Apa tujuan didirikannya perpustakaan?
  2. Bagaimana kebodohan melanda negeri ini?
  3. Mengapa orang malas membaca atau belajar di perpustakaan?
  4. Tindakan apa saja yang seharusnya dilakukan perpustakaan dalam membantu mengentaskan kebodohan?

PERUMUSAN MASALAH

Tujuan didirikannya perpustakaan

Perpustakaan memiliki arti sebagai sebuah ruangan, bagian sebuah gedung, ataupun gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang biasanya disimpan menurut tata urutan tertentu untuk digunakan pembaca bukan untuk dijual. (Menurut Sulistyo Basuki, Pengantar Ilmu Perpustakaan,Jakarta,1991).

Dalam pembukaan UUD 1945 disebut tujuan kemerdekaan Bangsa Indonesia adalah : “…membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial …”. Dari kalimat tersebut dapat disimpulkan bahwa bukan hanya kemampuan otak tetapi kehidupanlah yang harus dicerdaskan. Kehidupan yang cerdas menuntut kesadaran harga diri, harkat, martabat, kemandirian, tahan uji, pintar, jujur, berkemampuan kreatif, produktif dan  emansipatif, innerlijke beschaving.

Salah satu tujuan kemerdekaan Bangsa Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, maksudnya setiap warga diharapkan hidup cerdas. Kecerdasan hidup dapat diperoleh dengan kemauan dan kemampuan belajar. Artinya kegiatan belajar menjadi kewajiban setiap manusia Indonesia. Hidup bangsa yang cerdas akan tercapai apabila warganya telah menjadi masyarakat pembelajar dan mampu menggunakan pengetahuannya secara bijaksana.

Perpustakaan mempunyai posisi yang strategis dalam masyarakat pembelajar, karena perpustakaan bertugas mengumpulkan, mengelola, dan menyediakan rekaman pengetahuan untuk dibaca dan dipelajari. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa tugas pokok perpustakaan adalah mengumpulkan bahan pustaka dari masa lalu dan masa sekarang, serta menyimpan dan menyediakannya untuk keperluan pemakai kini dan masa mendatang. Dengan demikian perpustakaan memiliki dua fungsi yaitu fungsi dokumentasi dan fungsi pelayanan informasi. Terdapat lima fungsi perpustakaan yaitu : fungsi pelestarian, fungsi informasi, fungsi pendidikan, fungsi rekreasi, fungsi budaya

Fenomena perpustakaan dan kebodohan di Indonesia.

Alasan bahwa kebodohan melanda negeri ini karena masyarakatnya malas membaca. Masyarakat terbuai dengan budaya audio visual, yang dinilai jauh lebih menarik dan selalu menyajikan informasi up to date. Keharusan memperbaharui koleksi buku untuk mendapat pengetahuan baru menjadi alasan ekonomis yang membuat kegiatan membaca tidak populer di Indonesia.

Berdasarkan kenyataan saat ini, perpustakaan kurang membantu negara untuk mencerdaskan masyarakat. Terbukti masih banyak masyarakat yang tidak mengerti tentang manfaat perpustakaan bagi pribadi seseorang atau mungkin perpustakaan sendiri yang kurang meyakinkan masyarakat tentang informasi yang terkandung di dalamnya.

Salah satu alasan kenapa perpustakaan sepi pengunjung karena ke lima fungsi tersebut berjalan tidak seimbang. Sehingga hal ini menyebabkan rasa enggan oleh masyarakat karena perpustakaan kurang menarik minat pengunjung atau masyarakat kurang termotivasi untuk datang ke perpustakaan. Fenomena yang terjadi saat ini, pengunjung perpustakaan adalah orang yang benar-benar memerlukan informasi yang dibutuhkan dan ada juga pergi ke perpustakaan karena terpaksa atau bisa dibilang hanya orang yang cerdas. Sebagai contoh mahasiswa yang pergi ke perpustakaan hanya saat ada tugas dari dosen. Orang yang rajin belajarlah yang mau menunjungi perpustakaan dengan sukarela. Karena perpustakaan dianggap orang awam atau sebagian masyarakat tidak bermanfaat. Perpustakaan yang sepi pengunjung dikarenakan oleh dua hal. Pertama dari msyarakat di sekitar perpustakaan yang malas membaca. Kedua adalah pihak perpustakaan sendiri yang kurang memicu semangat membaca atau semangat kunjung kepada masyarakat sekitar perpustakaan. Bisa dibilang kurangnya promosi dari pihak perpustakaan Hal ini dikarenakan kurang bersosialisasinya perpustakaan terhadap masyarakat. Sumber informasi seperti bacaan semakin penting, mengingat masyarakat semakin kritis serta menjadi subyek atau terlibat langsung dalam peristiwa pembangunan. Tidak seperti dahulu, di mana masyarakat cenderung pasif dan menerima saja hasil-hasil pembangunan.

Alasan orang malas datang ke perpustakaan yaitu :

  1. perpustakaan masih dianggap kurang menarik bagi sebagian orang.
  2. perpustakaan kurang memasyarakat.
  3. masyarakat yang malas membaca.
  4. budaya masyarakat yang lebih suka dengan kegiatan bersantai di rumah.
  5. masyarakat lebih senang dengan budaya mendengar dan melihat acara audio visual daripada budaya baca.

Kiat-kiat kesuksesan perpustakaan dalam membantu mengentaskan kebodohan.

Panduan dalam mencapai kesuksesan dalam menarik masyarakat untuk dapat memasyarakatkan perpustakaan,  maka setiap pendirian perpustakaan harus memiliki :

1. Tujuan, untuk mengembangkan perpustakaan maka sebaiknya disimpulkan dengan jelas apa tujuan atau sasaran yang hendak dicapai. Sudah jelas dalam ilmu perpustakaan bahwa tujuan perpustakaan adalah berorientasi pada pemakai (untuk memenuhi kebutuhan pemakai). Perpustakaan harus bisa menganalisis tentang bahan pustaka apa saja yang dibutuhkan oleh masyarakat sekitar perpustakaan. Misalnya : untuk perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan dapat memenuhi kebutuhan civitas akademik masing-masing fakultas; untuk perpustakaan umum : perpustakaan dapat memenuhi kebutuhan untuk masyarakat umum tersebut sesuai dengan budaya, mata pencaharian, tradisi masyarakat setempat; dll.

2. Persiapan, dalam langkah awal pendirian perpustakaan, point yang sangat penting adalah bahan pustaka, pemilihan bahan pustaka sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Tugas pustakawan di sini adalah menganalisis bahan bacaan apa saja yang kiranya menarik minat membaca masyarakat. Ditambah lagi dengan tersedianya koleksi yang lengkap dan up to date. Bahan pustaka dapat berupa buku, koleksi audio visual, majalah, koran, dll. Ditunjang dengan penggunaan Teknologi Informasi (TI), persiapan dalam pengembangan perpustakaan akan berjalan lancar. Dengan TI dapat memudahkan kinerja pustakawan dalam mengelola perpustakaan, misalnya adanya katalog on-line sehingga mudah dalam menelusur informasi, sistem peminjaman dan pengembalian yang otomatis akan mempercepat dalam peminjaman buku. Serta ditunjang dengan fasilitas yang memadai untuk pengunjung dan kelancaran dalam kinerja pustakawan. Sebagai contoh didirikannya kantin yang dekat dengan perpustakaan, di dalam gedung perpustakaan ada tempat untuk seminar, pemutaran film, tempat duduk yang nyaman untuk membaca. Dan dari persiapan ini perlu dibuat daftar yang rinci dalam memenuhi apa saja yang dibutuhkan perpustakaan untuk menjadi perpustakaan yang modern.

3. Lingkungan

  • Letak gedung : mengenai lokasi perpustakaan yang strategis, berada pusat suatu komunitas masyarakat. Sehingga masyarakat dari kalangan apa saja dapat dengan mudah menjangkau perpustakaan.
  • Bentuk gedung : jika orang melihat dari sisi luar gedung sebaiknya gedung perpustakaan di cat dengan warna yang menarik pengunjung, atau gedung dibuat seperti mall. Setidaknya bentuk gedung disesuaikan dengan trend bangunan terbaru saat pembuatan gedung perpustakaan dengan model arsitektur yang banyak digemari masyarakat atau mungkin sesuai dengan bangunan tradisi masyarakat setempat.
  • Isi gedung : di dalam perpustakaan, selain terdapat koleksi yang lengkap dan menarik, penataan ruanganpun juga harus menarik. Tersedianya ruang  yang nyaman untuk bersantai dan belajar sangatlah perlu agar pemakai perpustakaan betah berlama-lama datang ke perpustakaan. Seperti dalam pemilihan furnitur dan rak buku yang diselaraskan warnanya dengan warna cat tembok. Dari ini diharapkan perpustakaan akan memasyarakat sebagai tempat yang tidak sumpek malah sebaliknya.
  • Untuk perpustakaan daerah, gedung perpustakaan sebaiknya dibuat dengan jumlah yang relatif  banyak maksudnya perpustakaan daerah tidak hanya ada di satu lokasi dalam satu kota, melainkan pembangunan perpustakaan bisa sampai ke kecamatan bahkan akan lebih baik jika samapi ke desa-desa. Jadi dalam satu kota terdapat beberapa gedung perpustakaan, sehingga masyarakat dapat menganggap perpustakaan sebagai bagian dari hidupnya.

4. Komitmen

Sebuah komitmen lebih dari sekedar janji. Ruang baca atau perpustakaan perlu memiliki komitmen baru yaitu membantu negara mencerdaskan kehidupan bangsa. Komitmen ini perlu dipegang teguh sampai menemukan titik temu yang diinginkan bahwa seluruh lapisan masyarakat akan menjadi masyarakat pembelajar, baik masyarakat dari kalangan manapun.

Komitmen seorang guru bangsa :

“Aku akan selalu menerobos batas-batas yang mengungkung kemanusiaan dengan terus menerus menabur benih-benih kehidupan baru, sambil melakukan berbagai eksperimental guna menciptakan kembali (rekreasi) masyarakat bangsaku. Aku akan setia mendampingi manusia-manusia pembelajar untuk mencari legenda pribadi mereka, life destiation-compass-flight plan mereka dan membesarkan hati mereka saat mengalami penderitaan dalam proses tersebut” (Yusuf, Tarmizi.2000.Be The Winner:Panduan Mencapai Kesuksesan dalam Segala Sisi Kehidupan.Jakarta:Elex Media Komputindo).

Perpustakaan salah satu sarana untuk mencerdaskan bangsa maka perlu juga memahami dan melaksanakan komitmen guru bangsa tersebut. Bahwa perpustakaan adalah pendamping setiap manusia Indonesia untuk melaksanakan kegiatan belajar. Juga siap dengan perkembangan zaman, maksudnya perpustakaan siap mengubah dirinya sesuai perkembangan zaman demi membuat para pembelajar merasa nyaman berada di perpustakaan.

5. Aktif, perpustakaan perlu aktif dalam merealisasikan rencana-rencana yang telah dibuat untuk memasarkan informasi yang dimiliki. Supaya setiap orang dapat memanfaatkan informasi yang ada di perpustakaan. Salah satu kerja aktif perpustakaan dengan mengadakan kerjasama antar perpustakaan. Dan perpustakaan selalu aktif dalam mengelola informasi. Perlu juga perpustakaan datang langsung kepada pengguna, dengan mengadakan perpustakaan keliling yang setiap hari berganti lokasi dengan datang langsung ke tempat-tempat yang strategis dengan mobil pustaka yang berisi buku-buku bacaan.

Pustakawan perlu aktif membenahi beberapa hal mengenai sistem pelayanan dan profesionalisme dalam bekerja. Seperti dalam keramah tamahan yang jujur (tidak palsu) dalam melayani pengguna perpustakaan.

6.  Komunikasi, antara perpustakaan dan masyarakat perlu adanya pendekatan. Langkah awal yang perlu dilalui dengan promosi kepada masyarakat. Pemahaman yang benar atas perpustakaan perlu dimiliki oleh seluruh lapisan masyarakat. Pihak perpustakaan lebih dulu menafsirkan siapa masyarakat calon pemakai perpustakaan. Dapat dilakukan dalam berbagai media, baik media cetak maupun media audio visual. Seperti promosi yang dilakukan di koran, atau majalah, dan selebaran. Diharapkan dari promosi ini masyarakat akan memahami arti pentingnya perpustakaan dan menghilangkan anggapan bahwa perpustakaan adalah hanya gudang buku dan tempat yang berdebu serta sumpek. Dengan kegiatan promosi ini pustakawan yang harus berperan aktif untuk menyebarkan beberapa informasi terhangat tentang perpustakaan dimana dia bernaung. Sehingga perpustakaan mampu menciptakan motivasi kepada masyarakat betapa nikmatnya belajar atau memanfaatkan perpustakaan dan betapa damainya rekreasi di perpustakaan.

7. Fokus, dalam perencanaan pengembangan perpustakaan untuk memberantas kebodohan terdapat rencana-renacana yang telah dibuat, maka perpustakaan harus fokus atas apa yang direncanakan pertama kali lalu melaksanakan rencana berikutnya.

8. Disiplin. Disiplin merupakan langkah yang sangat mendukung perpustakaan agar memasyarakat.

Sumber: http://www.pemustaka.com/perpustakaan-vs-kebodohan.html

Perpustakaan sekolah

January 28, 2013 on 4:44 am | In Uncategorized | No Comments

Sebagai gudang buku, perpustakaan memang menyimpan banyak ilmu. Dari sanalah sumber ilmu pengetahuan berasal, termasuk perpustakaan yang ada di sekolah. Tidak heran, untuk memperingati pentingnya perpustakaan sekolah, sebuah organisasi memproklamasikan adanya Hari Perpustakaan Sekolah Internasional.
Asal Mula Hari Perpustakaan Sekolah Internasional

International Association of School Librarianship (IASL) merupakan organisasi internasional yang p-ertama mencetus adanya Hari Perpustakaan Sekolah Internasional, di tahun 1999. Perayaan pertama dilakukan pada 18 Oktober 1999, dengan tema “A Day in Life…”.  Tujuan dari adanya Hari Perpustakaan Sekolah Internasional adalah menjadikan perpustakaan sekolah semakin berperan dalam pendidikan sekolah. Terlebih, diharapkan semua perpustakaan sekolah di berbagai negara semakin berkembang.

Perayaan Hari Perpustakaan Sekolah Internasional
Ada sejumlah kegiatan yang bisa kita lakukan untuk meramaikan Hari Perpustakaan Sekolah Internasional.

1. Menghias perpustakaan sekolah
Untuk menciptakan suasana meriah, kita bisa menghias ruang perpustakaan sekolah. Mintalah izin kepada pihak sekolah untuk menempel hiasan bertemakan perpustakaan. Kita juga bisa mencantumkan logo Hari Perpustakaan Sekolah Internasional yang dapat diunduh di www.iasl-online.org.

2. Lomba menulis artikel
Lomba menulis artikel dapat menjadi pilihan kegiatan yang menarik sekaligus menantang! Sediakan tema-tema seputar perpustakaan, seperti “Perpustakaan Impianku”. Tulisan yang paling baik bisa mendapat hadiah, serta dipajang di majalah dinding atau koran sekolah.

3. Lomba merancang logo
Logo tentunya memiliki makna penting. Membuat logo pun tidaklah mudah. Sebagai bentuk kepedulian terhadap perpustakaan sekolah, kita bisa membuat lomba merancang logo, yang nantinya mungkin bisa menjadi logo perpustakaan di sekolah kita.

4. Menjadi pustakawan
Tidak ada salahnya belajar menjadi pustakawan, yakni ahli perpustakaan. Pada Hari Perpustakaan Sekolah Internasional, kita bisa “magang” di perpustakaan sekolah untuk mengetahui tata cara pengelolaannya. Misalnya, cara menomori buku, cara mengelompokkan buku, dan alur peminjaman buku.

5. Menyumbangkan buku
Sahabat Bravo!, inilah saatnya “mengeluarkan” buku yang menumpuk di gudang. Alih-alih membuat penuh ruangan, ada baiknya bila kita sumbangkan buku-buku tersebut ke perpustakaan. Tak hanya untuk perpustakaan yang ada di sekolah, buku-buku layak baca itu pun bisa kita sumbangkan ke perpustakaan lain yang membutuhkan. Buku-buku tersebut pastinya akan lebih bermanfaat.

Tahukah kamu?
Terbatasnya dana membuat banyak sekolah di Indonesia tak memiliki ruang baca seperti yang ada di sekolahmu. Agar siswa bisa tetap membaca, sejumlah orang dan organisasi mendirikan perpustakaan “dadakan”. Beda dengan perpustakaan pada umumnya yang menggunakan sebuah ruangan, perpustakaan dadakan ini menggunakan kendaraan sebagai tempat menyimpan koleksinya, seperti berikut.

- Perpustakaan sepeda keliling
Perpustakaan sepeda keliling dapat kita temukan di Bogor, Jawa Barat. Perpustakaan ini dibuat oleh Kiswanti, yang memiliki koleksi hampir 2.000 buku. Setiap hari Rabu dan Sabtu, perpustakaan sepeda yang dikendarai Kiswanti menyusuri jalan sepanjang 5-9 kilometer. Buku-buku tersebut memiliki jenis beragam, termasuk buku pelajaran.

- Perpustakaan motor keliling

Tak hanya sepeda, motor pun bisa dijadikan perpustakaan. Di sejumlah tempat, seperti di Solo, terdapat perpustakaan motor keliling. Agar dapat menampung buku-buku koleksi, bagian belakang motor dilengkapi dengan rak atau lemari. Tujuan dari perpustakaan motor keliling ini adalah mengunjungi sekolah-sekolah yang tidak bisa dijangkau oleh mobil, seperti di pedesaan.

- Perpustakaan mobil keliling
Mobil pun dapat diubah menjadi perpustakaan! Sejumlah organisasi dan instansi tertentu membuat perpustakaan mobil keliling. Biasanya, perpustakaan mobil ini akan berhenti di pusat keramaian, seperti sekolah, tempat wisata, ataupun taman kota. Di Jakarta, mobil perpustakaan cukup banyak ditemukan. Salah satunya adalah mobil yang dimiliki oleh Perpustakaan Nasional Indonesia.

-  Perpustakaan kapal keliling
Tak hanya di wilayah darat, di wilayah perairan pun terdapat perpustakaan. Untuk menjamah tema-teman yang tinggal di pesisir, kapal perpustakaan pun disediakan. Beberapa daerah di Indonesia yang dikunjungi oleh kapal perpustakaan keliling antara lain Bintan, Ternate, dan Wakatobi. Di Wakatobi, sebuah kapal perpustakaan keliling bisa memiliki koleksi hingga 2.000 buku! (Nisa)

Sumber : http://www.majalahbravo.com/artikel/wawasan/498-perpustakaan-sekolah

Niat dan Kiat Menumbuhkan Rasa Cinta Terhadap Perpustakaan yang Berujung pada Manfaat

January 9, 2013 on 4:07 am | In Uncategorized | No Comments

Membaca adalah jendela dunia, tentunya merupakan kalimat yang sudah tidak asing lagi ditelinga dan dimata kita. Banyak manfaat yang dapat kita peroleh dari membaca, salah satunya ialah dengan membaca, pengetahuan seeorang akan bertambah. Pengetahuan itulah yang akan mencerdaskan bangsa ini. Kita dapat menemukan berbagai macam jenis buku di perpustakaan sehingga perpustakaan layak dijadikan tempat favorit untuk mencerdaskan kehidupan kita. Akan tetapi, seberapa banyak dari masyarakat Indonesia yang suka pergi ke perpustkaan untuk membaca dan merasakan manfaat lainnya dari perpustkaan?

Gaya hidup mayarakat Indonesia yang suka menonton televisi dan mengobrol berjam-jam membuat orang tidak memiliki waktu dan malas untuk membaca, apalagi sekarang sedang marak situs jejaring pertemanan yang semakin memfasilitasi orang untuk menghabiskan waktu hanya untuk ngobrol. Jangankan untuk membaca buku-buku umum, membaca buku pelajaran atau buku kuliah saja masih banyak pelajar dan mahasiswa yang harus dipaksa oleh orang tua. Itu saja jika mereka kuliah dan sekolah dengan didampingi langsung oleh orang tua. Bagaimana dengan mahasiswa dan pelajar yang tidak tinggal dengan otang tua atau kos? Banyak yang masih memilih menghabiskan waktu untuk jalan-jalan di pusat perbelanjaan daripada ke perpustakaan untuk meminjam buku dan membaca.

Apabila kondisi ini dibiarkan, maka generasi nol membaca sangat mungkin terjadi. Oleh karena itu, diperlukan cara untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap membaca dan perpustakaan. Perpustakaan merupakan tempat yang paling efektif untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap membaca karena suasana di perpustakaan seolah-olah memberi sugesti tesendiri bagi setiap pengunjung untuk mencintai buku-buku yang ada di sana. Hal itu karena buku-buku tersebut memberikan kekayaan yang sungguh berharga yaitu ilmu sehingga sangat penting untuk memiliki rasa cinta terhadap perpustakaan.

B. Permasalahan

Bedasarkan hal-hal yang telah diuraikan dalam pendahuluan di atas, yang menjadi permasalahan dalam masyarakat adalah kurangnya rasa cinta terhadap perpustkaan sehingga perlu dicari jawaban dari permasalahan ini, yaitu bagaimana menumbuhkan rasa cinta terhadap perpustakaan?

C. Tujuan

Tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk menumbuhakan rasa cinta terhadap perpustakaan yang berarti juga cinta terhadap membaca.

D. Landasan Teori

Teori yang relevan dengan tulisan ini meliputi pengertian menumbuhkan, cinta, dan perpustakaan. Berikut ini merupakan uraian dari teori tersebut.

1.       Pengertian Niat dan Kiat

Kamus besar bahasa Indonesia memaparkan pengertian niat dan kiat sebagai berikut. Niat adalah a. maksud dan tujuan suatu perbuatan, b. kehendak (keinginan hati) akan melakukan sesuatu (KBBI, 2005: 782) sedangkan kiat adalah akal (seni atau cara) melakukan, taktik (KBBI, 2005: 566).

Berdasarkan pngertian di atas, dalam makalah ini untuk melakukan atau menumbuhkan rasa cinta terhadap perpustakaan diperlukan niat.

2.       Pengertian menumbuhkan

Kata menumbuhkan berasal dari kata dasar tumbuh yang mendapat imbuhan me-kan. Pengertian tumbuh adalah timbul (hidup) dan bertambah besar atau sempurna (KBBI, 2009: 1220), sedangkan imbuhan dalam kata menumbuhkan berarti membuat jadi (perbuatan aktif  yang sengaja dilakukan). Berdasarkan pengertian tersebut, arti kata menumbuhkan dalam makalah ini ialah menimbulkan dengan sengaja perasaan cinta terhadap perpustakaan.

3.       Pengertian Cinta

Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005: 214) mengungkapkan pengertian cinta, yaitu suka sekali, sayang benar. Pengertian cinta yang dimaksud dalam tulisan ini adalah suka sekali terhadap membaca atau perpustakaan.

4.       Perpustakaan

a. Pengertian Perpustakaan

Pengertian perpustakaan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005: 912), yaitu

1)       tempat, gedung, ruang yang disediakan untuk pemeliharaan dan penggunaan koleksi buku,

2)       koleksi buku, majalah, dan bahan kepustakaan lainnya yang disimpan untuk dibaca, dipelajari, dibicarakan.

Pengertian yang lain tentang perpustakaan juga dipaparkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang perpustakaan. Pengertian perpustakaan dalam undang-undang tersebut disebutkan dalam pasal 1 ayat 1, yaitu institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, rekreasi para pemustaka. Koleksi perpustkaan adalah semua informasi dalam bentuk karya tulis, karya cetak, dan atau karya rekam dalam berbagai media yang mempunyai nilai pendidikan yang dihimpun, diolah, dan dilayankan (ayat 2).

Berdasarkan pengertian perpustakaan yang telah dipaparkan di atas, perpustakaan adalah tempat atau koleksi buku yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan pengetahuan bagi manusia.

b. Jenis-Jenis Perpustakaan

Jenis-jenis perpustakaan yang dipaparkan di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 pasal 1 tentang perpustakaan yaitu sebagai berikut.

1)       Perpustakaan nasional adalah lembaga pemerintah non departemen (LPND) yang melaksanakan tugas pemerintahan dalam bidang perputakaan yang berfungsi sebagai perpustakaan pembina, perpustakaan rujukan, perpustakaan deposit, perpustakaan penelitian, perpustakaan pelestarian, dan pusat jejaring perpustakaan, serta berkedudukan di ibukota negara (ayat 5).

2)       Perpustakaan umum adalah perpustakaan yang diperuntukkan bagi masyarakat luas sebagai sarana pembelajaran sepanjang hayat tanpa membedakan umur, jenis kelamin, suku, ras, agama, dan status sosial-ekonomi (ayat 6).

3)       Perpustakaan khusus adalah perpustakaan yang diperuntukkan secara terbatas bagi pemustaka di lingkungan lembaga pemerintah, lembaga masyarakat, lembaga pendidikan keagamaan, rumah ibadah, atau organisasi lain (ayat 7).

c. Fungsi Perpustakaan

Fungsi perpustakaan dipaparkan di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 pasal 3 tentang perpustakaan yaitu sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa.

E. Pembahasan

Ada segudang alasan seseorang untuk pergi ke perpustakaan dan ada segudang pula alasan seseorang untuk tidak pergi ke perpustakaan. Baik untuk orang yang sudah sering, jarang, atau tidak pernah sama sekali ke perpustakaan, fakta yang harus disadari oleh kita semua adalah perpustakaan itu menympan sejuta rahasia pengetahuan yang luar biasa. Rahasia yang hanya bisa diketahui oleh orang-orang yang mau membukanya dan rahasia itu membawa dampak yang luar biasa terhadap manusia. Pengetahuan, itulah rahasia besar yang tersimpan di dalam perpustakaan, mungkin hal itu sudah dirasakan oleh orang-orang yang sudah mencintai perpustakaan, tetapi bagaimana dengan yang belum mencintai perpustakaan?

Tresno jalaran saka kulino (cinta karena terbiasa) merupakan pepatah jawa yang pernah dialami oleh beberapa pasang pemuda. Perasaan cinta itu tumbuh karena terbiasa bertemu, terbiasa menghabiskan waktu bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan tertentu, dan lain-lain. Begitu juga dengan relasi antara seseorang dengan perpustakaan, apabila seseorang benar-benar malas untuk pergi ke perputakaan, langkah yang harus ia lakukan adalah memulai untuk ke perpustakaan. Kiat ini mungkin terkesan memaksa, tetapi terkadang hal ini perlu untuk membuat bangsa ini maju.

Kiat yang sepertinya memaksa ini misalnya ke perpustakaan karena harus mencari referensi untuk mengerjakan tugas sekolah atau sekolah. Akan tetapi ketika seseorang sudah masuk ke perpustakaan meskipun melalui cara ini, apabila hal itu sering dilakukan, maka perasaan cinta terhadap perpustakaan itu akan muncul karena akhiramya ia dapat merasakan manfaat perpustakaan.

Manfaat meluangkan waktu di perpustakaan untuk membaca dan meminjam buku-buku adalah sebagai berikut.

1.       Mendapatkan informasi dan pengetahuan tentang hal-hal umum atau disiplin ilmu tertentu sehingga membentuk pandangan atau wawasan yang luas dalam pikiran seseorang.

2.       Mendapatkan kesegaran (dapat berekreasi) melalui buku-buku tertentu dan menyehatkan.

3.       Mendapatkan ide atau gagasan yang dapat diwujudakan dalam suatu karya (membuat manusia menjadi produktif).

4.       Membentuk manusia untuk menjadi pribadi yang bijaksana.

Apabila seseorang sudah merasakan manfaat perpustakaan, maka bukan dengan paksaan lagi ia masuk ke perpustakaan, melainkan dengan hati yang tersenyum (niat tulus) karena ia tahu bahwa ada sesuatu yang lebih besar yang ia dapatkan dari waktu yang diluangkannya itu.

Hal-hal praktis untuk merasakan manfaat perpustakaan dengan maksimal adalah sebagai berikut.

1.       Jadilah anggota perpustakaan di lingkungan Anda (sekolah, universitas, kabupaten, dan lain-lain).

2.       Lihatlah buku-buku dengan teliti dan buat tujuan-tujuan yang akan dicapai setiap akan meminjam buku sehingga tidak bingung (karena jumlah peminjaman terbatas).

3.       Luangkan waktu secara teratur untuk meminjam, membaca, bahkan mencatat hal-hal inti bacaan.

4.       Tuangkan setiap ide atau gagasan yang Anda peroleh dalam suatu karya (artikel, puisi, cerpen, atau karya sastra lainnya).

5.       Jadikan perpustakaan sebagai salah satu tempat favorit dalam kehidupan Anda.

6.       Investasikan uang Anda untuk membeli buku-buku yang bermanfaat, inventariskan buku-buku tersebut sehingga Anda bisa memiliki perputakaan yang diwariskan untuk anak cucu Anda kelak.

F. Kesimpulan dan Saran

Berdasarkan hal-hal yang telah dipaparkan di dalam pembahasan, mulailah menginvestasikan waktu untuk membaca dan meminjam buku di perpustakaan untuk mendapatkan manfaat yang jauh lebih besar dari waktu yang telah kita luangkan. Milikilah niat untuk mencintai perpustakaan yang diwujudkan dalam suatu kiat nyata.

Saran untuk penulis lain yang akan membahas hal yang sama dengan tulisan ini ialah dapat memaparkan pengenalan perpustakaan pada anak usia dini dan lain-lain.

 

 

G. Daftar Pustaka

Departemen Pendidikan Nasional. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

UURI no 43 tahun 2007 tentang perpustakaan

Penulis: Elizabeth Ria Yulita

Banguntapan, Bantul, Yogyakarta

Sumber : http://www.pemustaka.com/niat-dan-kiat-menumbuhkan-rasa-cinta-terhadap-perpustakaan-yang-berujung-pada-manfaat.html#_

Sprit Cinta Perpustakaan

February 20, 2012 on 3:21 am | In Uncategorized | No Comments
qqq

Selama ini tanpa terasa telah terjadi pereduksian dalam menyadari kebutuhan untuk “membaca” dalam masyarakat. Muncul anggapan bahwa “membaca buku” hanyalah kebutuhan bagi orang-orang yang pekerjaannya berhubungan dengan sekolah. Indikator terkecil dari gejala ini dapat terlihat dengan fenomena kecenderungan dalam mengoleksi buku. Masyarakat yang memang pekerjaannya tidak berhubungan dengan sekolah akan enggan membeli buku.

Di sisi lain, dalam masyarakat yang aktivitasnya berhubungan dengan sekolah pun terjadi keengganan dalam membaca dan mengoleksi buku. Siswa maupun mahasiswa yang etos belajarnya rendah hanya akan mau membaca dan membeli buku ketika mendapat tugas dari kelas. Bahkan yang paling parah pun bisa terjadi seperti pelajar yang kerjanya hanya mencari makalah loakan dalam memenuhi tugas kelasnya. Inilah potret masyarakat sekolahan yang tidak menjadi pendukung suburnya dunia baca, yang justru meruntuhkan idealisme belajar.

Sekarang solusinya perlu dilakukan gerakan memperluas kesadaran bahwa kebutuhan membaca buku tidak dibatasi oleh status manusia. Masyarakat apapun profesinya, mereka pada dasarnya butuh selalu “membaca”. Butuh membaca karena butuh informasi. Buku menjadi salah satu penyuplai kebutuhan itu.[1] Kebutuhan “membaca” seharusnya dijadikan pandangan hidup yang diikuti semua masyarakat tanpa membedakan status, baik yang masih aktif dengan dunia sekolah maupun sudah memasuki dunia kerja. Kesadaran ini perlu menjadi kesepakatan bersama, milik bersama dan menggugah semua pihak untuk mengkampanyekannya bagi mereka yang belum sadar.

Karena kehidupan manusia  tidak bisa dilepaskan dari keyakinan yang dipeganginya, maka pandangan hidup tersebut akan lebih mudah merasuki kesadaran manusia bila ditopang dengan ritus agama. Perbedaan agama tidak perlu menjadi faktor penghalang, karena setiap agama mempunyai ritual sendiri-sendiri yang muatan pesannya mempunyai kemiripan universal, yakni memaksimalkan potensi manusia untuk berkarya demi pengabdiannya kepada Tuhannya.

Salah satu pandangan hidup yang menekankan kebutuhan “membaca” telah penulis temukan dalam pengalaman akademik seorang bernama Prof. Yudian Wahyudi, Ph.D. Setahu penulis, dalam kurun waktu 5 tahun tinggal di Indonesia setelah pulang dari Amerika, dia telah menerbitkan karya tulisnya sebanyak 7 buku, menerbitkan 2 buku terjemahannya, menerbitkan 2 buku yang dieditorinya, menulis kata pengantar untuk 4 buku dan menyeponsori penerbitan antologi tulisan yang dieditori santrinya.

Kekonsistenan Yudian ini adalah karena dia mempunyai pengalaman akdemik yang dibalutnya dengan nilai spiritual, yakni mujahadah ilmiah. Aktivitas ini meliputi beberapa bagian, yaitu : tahajjud ilmiah, ijtihad ilmiah dan jihad ilmiah. Tahajjud ilmiah adalah kegiatan membaca buku dengan jumlah halaman sebanyak-banyaknya pada malam hari. Lalu diteruskan dengan ijtihad ilmiah yang isinya adalah kegiatan menulis ide-ide dari hasil pembacaan yang telah dilakukan. Kemudian pada akhirnya adalah jihad ilmiah yang merupakan kegiatan untuk mempublikasikan tulisan tersebut semampunya meski kalau terpaksa dengan uang pribadi dan tanpa gelisah apakah untung atau rugi.[2]

Permasalahan

Permasalahan yang menghadang tradisi mencintai buku dan perpustakaan sekarang ini mencakup:

1.             Adanya pereduksian kesadaran akan kebutuhan “membaca.” Indikator gejala ini dapat dilihat dengan menyempitnya lingkungan masyarakat yang cinta buku hanya dilakoni masyarakat yang aktivitasnya membutuhkan analisis akademis. Sedangkan masyarakat yang mata pencahariannya sebagai buruh pabrik, karyawan kantor, petani, kuli bangunan dan jenis masyarakat lain kurang membutuhkan analisis akademik, mereka semua kurang mempunyai perhatian kebutuhan untuk “membaca”, yang pada akhirnya tidak mencintai perpustakaan.

2.             Meski pada realitasnya mayoritas masyarakat hidup dengan ajaran dari agama-agama yang telah dipeluknya, namun penerapan keberagamaan mereka hanya sebatas kebutuhan ritual beribadah dengan Tuhannya. Tampaknya keasadaran beribadah dengan implementasi memperbaiki kualitas pengetahuan belum tersentuh. Padahal setiap agama mengharuskan pemeluknya untuk mengetahui ajaran yang dikandung agama yang dipeluknya. Mengetahui tentu tidak bisa tercapai tanpa menggiatkan semangat membaca. Pada dasarnya, sebenarnya agama telah menekankan pemeluknya untuk mendapatkan ilmunya lebih dulu sebelum melaksanakan ibadahnya. Sehingga kesadaran membaca serta mencintai perpustakaan harus dihidupkan lagi melalui ritual agama masing-masing.

3.             Masalah cinta buku dan perpustakaan sebenarnya tidak mutlak permasalahan ekonomi. Membaca buku tidak perlu harus buku keluaran baru. Buku-buku lama yang disediakan di pasar-pasar loakan yang harganya murah sebenarnya bisa menjadi solusi bagi mereka yang mempunyai sedikit estimasi keuangan untuk membeli buku. Kemudian, berdirinya perpustakaan daerah dan perpustakaan keliling sebenarnya juga menjadi solusi bagi yang tidak bisa membeli buku. Masalah kurangnya minat “membaca” lebih besar didominasi oleh lunturnya kesadaran masyarakat itu sendiri.

sumber : http://www.pemustaka.com

Perpustakaan, Sarana Pintar Buat Pintar

February 10, 2012 on 5:55 am | In Uncategorized | No Comments

Judul opini diatas, merupakan sebuah slogan Perpustakaan. Slogan tersebut sering kita lihat di berbagai media. Sarana pintar buat pintar, merupakan sebuah kalimat yang terdiri dari beberapa suku kata, guna mempertegas maksud keberadaan sebuah lembaga yang bernama Perpustakaan.

Perpustakaan sendiri merupakan suatu unit kerja dari suatu badan atau lembaga tertentu, yang mengelola bahan – bahan pustaka, baik berupa buku – buku maupun bukan berupa buku (Nonbook Material), yang diatur secara sistematis menurut aturan tertentu, sehingga dapat digunakan sebagai sumber informasi oleh setiap pemakainya (Wahyu Supianto, 2008)

Perpustakaan dan Pendidikan merupakan dua hal yang tidak dapat terpisahkan. Perpustakaan berfungsi sebagai salah satu faktor yang mempercepat akselerasi transfer ilmu pengetahuan. Sedangkan pendidikan, merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran, atau dengan cara lain yang dikenal dan diakui oleh masyarakat. Didalam Undang – Undang Nomor 20 Tahun 2003, tentang sistem pendidikan nasional, pemerintah harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu secara relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan, sesuai dengan tuntunan perubahan kehidupan lokal, nasional dan global.

Sebagai sebuah lembaga yang memberikan kontribusinya dalam bidang pendidikan, maka perpustakaan memiliki nilai – nilai pendidikan, edukatif dan ilmu pengetahuan. Orang yang mau membaca dan belajar, dapat memanfaatkan Perpustakaan sebaik – baiknya. Pendek kata, siapapun yang ingin pandai, menambah pengetahuan, keterampilan, dan wawasannya mesti belajar ( membaca), sementara itu, sumber membaca / belajar yang relatif lebih lengkap dan secara konferhensif tersedia adalah Perpustakaan.( Sutarno, 2008 ).

Bila melihat tujuan dari didirikannya sebuah Perpustakaan, akan tampak begitu besar manfaat yang dapat diambil. Adapun beberapa tujuan tersebut yaitu :

  1. Menimbulkan rasa cinta untuk membaca.
  2. Memperluas dan memperdalam penguasaan ilmu pengetahuan.
  3. Mengembangkan kemampuan belajar.
  4. Membantu mengembangkan kemampuan bahasa dan daya pikir.
  5. Pemeliharaan bahan pustaka secara baik.
  6. Memberikan kemudahan temu kembali informasi.
  7. Menunjang kegiatan belajar mengajar.
  8. Tempat rujukan untuk mencari informasi, guna pembuatan karya ilmiah maupun penelitian.
    Bila ditinjau dari sisi pandang yang lebih luas, maka peran perpustakaan bertindak sebagai agen perubahan, pembangunan, dan teknologi. Perubahan selalu terjadi seiring dengan sifat manusia yang selalu ingin tahu, eksplore dan berbudaya. Oleh karena itulah perpustakaan mempunyai andil yang besar dalam proses maju mundurnya dunia pendidikan.

Tenaga Perpustakaan

Pengelolaan sebuah perpustakaan, apakah itu Perpustakaan Umum, Perpustakaan Sekolah dan Perpustakaan Perguruan Tinggi pasti harus ditunjang oleh tenaga – tenaga yang terampil. Ini merupakan sebuah konsekkuensi yang harus dipenuhi. Karena memang perpustakaan dibangun untuk dapat mencerdaskan masyarakat. Oleh sebab itu, seorang pengelola perpustakaan yang menjadi ujung tombak di perpustakaan, haruslah orang – orang yang benar – benar terlatih dan mempunyai keterampilan khusus.

Terlihat jelas dalam penerimaan CPNS tahun 2009 beberapa waktu yang lalu, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten yang ada di Bangka Belitung, hampir semuanya membuka formasi Pustakawan, baik tingkat Sarjana (S1) maupun Ahli Madya (D3). Seperti yang sudah dibayangkan, pelamarnya juga tidak banyak, hanya ada 2 atau 3 orang saja. Bahkan diakhir hari penuntupan lamaran, ada kabupaten yang masih kososng pelamaranya khususnya untuk tenaga Pustakawan. Ini menunjukkan tingkat kebutuhan Pustakawan di Bangka Belitung sangat tinggi.

Kenapa harus Pustakawan yang bekerja di Perpustakaan? Kenapa bukan sarjana lain saja? padahal kerjanya kan, hanya meminjamkan dan menyusun buku semata? dan ini tentu sangat mudah. Itulah anggapan sebagian dari masyarakat, terhadap tenaga perpustakaan. Sesungguhnya tidak demikian, pekerjaan yang ada di perpustakaan bukan hanya peminjaman dan penyusunan buku saja. Banyak pekerjaan lain diluar peminjaman dan penyusunan buku, seperti pengolahan koleksi pustaka, proses pembuatan kartu catalog, proses automasi bahan pustaka yang semuanya memerlukan keahlian khusus, dan ini hanya bisa dikerjakan oleh seorang Pustakawan.

Hal lain yang harus diperhatikan juga, seiring dengan kemajuan informasi yang begitu cepat perkembangannya, perpustakaan dituntut untuk lebih berkembang, untuk itu dibutuhkan Sumber Daya Manusia ( SDM) yang memiliki daya pikir, kemampuan mengembangkan dan mempunyai gagasan untuk mengembangkan perpustakaan, bukan hanya sekedar menjadi pegawai pelengkap di sebuah Perpustakaan.

Sebuah perpustakaan sedapat mungkin merekrut, menempatkan setiap tenaga kerja, sesuai dengan kemampuan, dan keahlian ( the right man in the righ place). Karena memang segala sesuatunya mesti dimulai dari faktor manusia, mereka merupakan pemikir, penggerak, pelaksana dan sekaligus pengawas atas jalannya organisasi dalam mencapai tujuannya.

Hal lain yang perlu diingat adalah seorang pegawai perpustakaan bukanlah pegawai buangan, artinya bila ada pegawai yang tidak memiliki kemampuan apa – apa, lantas dia ditempatkan di perpustakaan, ini merupakan sikap yang salah dan harus dirubah.
Perpustakaan sebagai pusat sumber belajar, sebagai pusat sumber pembelajaran, pusat kegiatan sosial, pusat kebudayaan bangsa dan pusat informasi, sangat membutuhkan dukungan dari berbagai macam komponen seperti pemerintah daerah maupun pimpinan lembaga dimana perpustakaan itu bernaung. Hal ini diperlukan agar sebuah Perpustakaan dapat menunjang program – program lembaga induknya. Jayalah Perpustakaan Indonesia.

 

 

sumber: http://www.ubb.ac.id/menulengkap.php?judul=Perpustakaan,%20Sarana%20Pintar%20Buat%20Pintar&&nomorurut_artikel=397

Saatnya Perpustakaan Berinovasi

February 7, 2012 on 6:35 am | In Uncategorized | 1 Comment

“Salah satu yang dapat menjadi perhatian bagi para pengelola perpustakaan saat ini adalah tersedianya berbagai perangkat elektronik”

PERTUMBUHAN teknologi informasi dewasa ini, ibarat jet tempur yang terus melesat secepat kilat di angkasa. Tidak ada yang dapat menghentikannya kecuali si pilot yang mengendalikan pesawat itu sendiri.

Pengibaratan tersebut tidak jauh berbeda dengan apa yang sekarang ini terjadi di kalangan insan atau lembaga penyedia informasi. Sebut saja dunia pertelevisian (hiburan) dan surat kabar (berita) yang terus menerus melakukan inovasi. Maka lahirlah berbagai halaman domain, yaitu sebuah istilah yang dipakai untuk mengakses atau merefensikan sumber tertentu di internet yang dikembangkan oleh para pekerja informasi baik media cetak maupun media elektronik. Hal ini dilakukan agar informasi yang ada, tidak ketinggalan dengan perubahan pola hidup pemakai (user) informasi yang saat ini telah dimanjakan oleh berbagai media online yang bersifat cepat.

Lantas, bagaimana dengan perpustakaan? Keberadaan sebuah perpustakaan tidak jauh berbeda dengan komponen penyedia informasi lainnya, apakah itu sebuah kantor berita atau pusat dokumentasi. Sebagai sebuah lembaga yang didirikan untuk mendukung kebutuhan ilmu pengetahuan dan sebagai pusat penelitian, perpustakaan dituntut untuk terus memberikan yang terbaik kepada masyarakat pemakai (pemustaka).

Untuk itu, diperlukan perencanaan yang matang terutama, perencanaan mengenai komponen utamanya yang diharapkan dapat menjadi pokok pengembangan seperti, tersediaanya sumber daya manusia (pustakawan dan Tenaga Administrasi) yang handal, koleksi yang memadai, sistem layanan yang baik, fasilitas pendukung dan marketing.
Pada intinya, sebuah perpustakaan harus bisa memahami kebutuhan pemustaka walaupun pada kenyataannya tidak ada satupun perpustakaan yang dapat memenuhi seratus persen kebutuhan para pemustaka.

Adanya sebuah perpustakaan di sebuah wilayah atau daerah, diharapkan dapat meningkatkan kualitas masyarakat di sekitarnya. Setiap masyarakat sudah pasti membutuhkan sarana yang nyaman dan memadai untuk proses belajar, disamping keberadaan sekolah sebagai tempat belajar yang sudah umum. Sebut saja, tempat kursus dan juga pusat pelatihan, tetapi itu semua belum cukup. Perlu adanya sebuah lembaga yang dapat menunjang ketersedian informasi bersifat luas dan gratis, ini semua dapat terpenuhi jika di daerah tersebut memiliki sebuah perpustakaan.

Beberapa minggu yang lalu, media ini mengangkat pemberitaan mengenai tingkat pengunjung perpustakaan di beberapa daerah di Bangka Belitung yang masih sangat minim.

Minimnya tingkat pengunjung tersebut tentu ada beberapa sebab yang melatar belakanginya, mungkin letak perpustakaan yang kurang strategis, koleksi yang masih sedikit, fasilitas tempat membaca yang tidak nyaman, serta kurangnya promosi yang dilakukan. Karena memang, keberadaan sebuah Perpustakaan Daerah (Umum), berbeda dengan keberadaan Perpustakaan Sekolah dan Perpustakaan Perguruan Tinggi. Perpustakaan Sekolah dan Perpustakaan Perguruan Tinggi telah memiliki pengunjung tetap (aktif) yaitu masyarakat sekolah (murid dan guru) dan masyarakat kampus (mahasiswa, dosen dan karyawan) walaupun tujuan keberadaan perpustakaan tetap sama yaitu ingin mencerdaskan masyarakat dan membantu masyarakat mendapatkan informasi yang sesuai dengan keinginan mereka.

Salah satu yang dapat menjadi perhatian bagi para pengelola perpustakaan saat ini adalah tersedianya berbagai perangkat elektronik, sebut saja komputer yang bukan lagi menjadi barang mewah dan paling banyak di pakai di dunia perkantoran sekarang ini, adanya komputer sebagai mesin penyimpan dan temu kembali data/arsip secara cepat dan tepat, dapat menjadi nilai jual tersendiri bagi sebuah perpustakaan, apalagi bila perangkat tersebut telah didukung dengan sebuah software perpustakaan yang saat ini banyak dikembangkan oleh beberapa lembaga masyarakat pecinta perpustakaan dan juga lembaga milik pemerintah. Software ini bisa didapat secara gratis dengan cara mendownload di internet.

Namun lagi-lagi masalah SDM yang memiliki kemampuan di bidang komputer masih sangat minim dan mungkin sama sekali tidak dimiliki oleh sebuah perpustakaan. Hal inilah yang menyebabkan ketertinggalan perpustakaan dengan lembaga penyedia informasi lainnya.

Pengelolaan sebuah perpustakaan dengan bantuan komputer disamping mempermudah proses imput data (otomasi) juga lebih efisien, dan dapat memberikan layanan yang lebih baik kepada pengguna perpustakaan yang akan berakibat pada meningkatkanya citra perpustakaan. Sebuah perpustakaan harus terus berinovasi menuju ke arah yang lebih moderen, bukan lagi pengelolaan secara manual atau masih menggunakan metode pencatatan di sebuah buku double folio ketika ada pemustaka yang ingin meminjam buku, biar sistem yang bekerja, sehingga nantinya Pustakawan/Petugas Perpustakaan memiliki waktu yang banyak untuk melakukan pengembangan perpustakaan, karena pekerjaan yang sifatnya berulang sudah dikelola oleh komputer.

Moderenisasi sebuah perpustakaan juga tidak harus mahal, perpustakaan yang telah memiliki koleksi kurang dari lima ribu eksemplar buku, cukup dengan memiliki satu atau dua unit komputer yang dapat dipakai untuk Otomasi (Pengadaan koleksi, Katalogisasi, Sirkulasi, Pengelolaan, Keanggotaan dan Statistik) dan layanan, serta untuk administrasi ketatausahaan.

Untuk itu, peran pemerintah, terutama pemerintah daerah yang memiliki Perpustakaan Umum, perlu mengambil sikap yang cepat bagi pengembangan perpustakaan di daerah tersebut. Terutama peningkatan kualitas SDM, kualitas koleksi dan layanan serta kelengkapan peralatan pendukung seperti komputer mutlak tersedia.

Selanjutnya kegiatan promosi perpustakaan perlu terus ditingkatkan, karena ini penting. Sebab, kehadiran sebuah perpustakaan tak ubahnya sebuah perusahaan yang memiliki berbagai produk yang bagus dan produk tersebut perlu di promosikan (iklan) ke seluruh masyarakat, sehingga akhirnya masyarakat tertarik dan ingin memiliki produk tersebut.

Demikian juga dengan perpustakaan, masyarakat harus tahu dulu apa itu perpustakaan? Bagaimana dengan koleksinya dan juga pelayanannya? Yang pada akhirnya masyarakat semakin mengerti dan punya keinginan untuk berkunjung ke perpustakaan.

Semoga saja di tahun 2012 ini, perpustakaan semakin berkembang dan di cintai oleh masyarakat, serta dapat memberikan kontribusi yang nyata dalam upaya mencerdaskan generasi penerus bangsa. (*)

sumber : http://pustaka.uns.ac.id/?opt=1001&menu=news&option=detail&nid=348